Siswa SDLB dan SMPLB Negeri Lewoleba Uji Kemampuan di Tengah Keterbatasan

LEMBATA, KABAR-DESAKU.COM – Suasana di lembaga pendidikan SLB Negeri Lewoleba, Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur, tampak berbeda dari biasanya. Ruang kelas yang biasanya riuh dengan tawa khas anak-anak istimewa, kini berubah menjadi hening dan penuh konsentrasi.

Para siswa jenjang Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dan jenjang Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) tengah berjuang menuntaskan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai tolok ukur hasil belajar mereka.

Meski memiliki keterbatasan fisik maupun intelektual, semangat yang terpancar dari wajah para siswa ini tidak luntur. Dengan telaten, mereka berusaha memahami setiap instruksi dan soal yang tampil di layar monitor.

Baca juga: SLB Negeri Lewoleba Gelar Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berbasis HOTS, Dorong Guru Kembangkan Penilaian Berkualitas

Mimpi Besar di Balik Keterbatasan

Plt. Kepala SLB Negeri Lewoleba, Paulus Geardus Hurint, S.T.,Gr saat dihubungi, Senin (4/5/2026) pagi, menyampaikan bahwa pelaksanaan TKA ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan pembuktian bahwa anak-anak disabilitas memiliki potensi yang sama untuk terus berkembang jika diberikan ruang dan fasilitas yang tepat.

Namun, di balik semangat membara para siswa, terselip sebuah tantangan besar yang dihadapi lembaga.

Kurangnya sarana pendukung teknologi informasi, khususnya laptop dan komputer, menjadi kendala utama dalam mengoptimalkan potensi mereka di era digital ini.

Lewoleba

“Anak-anak kami adalah anak-anak yang istimewa. Mereka punya kemauan, tapi kami di lembaga pendidikan khusus ini sangat terbatas secara sarana. Kami sangat membutuhkan dukungan berupa laptop atau komputer yang memadai,” ungkap Pimpinan SLB Negeri Lewoleba.

Menggugah Nurani, Mengetuk Pintu Pemerintah

Melalui momentum pelaksanaan TKA ini, pihak sekolah secara terbuka mengajak seluruh lapisan masyarakat, donatur, dinas terkait, hingga pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk menoleh sejenak ke arah pendidikan luar biasa di Kabupaten Lembata.

Pimpinan lembaga menekankan bahwa pengadaan perangkat teknologi bukan sekadar kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak untuk :

  • Melatih Literasi Digital : Membiasakan siswa dengan teknologi agar tidak tertinggal.
  • Persiapan Kemandirian : Memberikan keterampilan teknis yang bisa menjadi bekal mereka untuk bekerja secara mandiri di masa depan.
  • Optimalisasi Belajar : Menggunakan perangkat lunak khusus yang dapat membantu proses belajar anak dengan kebutuhan khusus.

Baca juga: SLB Negeri Lewoleba Gelar Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berbasis HOTS, Dorong Guru Kembangkan Penilaian Berkualitas

 Harapan untuk Masa Depan

“Kami mengetuk pintu hati Bapak dan Ibu sekalian. Dukungan sekecil apa pun, terutama dalam bentuk sarana prasarana komputer, akan menjadi jembatan bagi anak-anak kami untuk meraih masa depan yang lebih cerah dan mandiri,” tambah Paulus dengan nada penuh harap.

Pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, tanpa terkecuali. Kini, bola panas ada di tangan kita semua akankah kita membiarkan keterbatasan sarana memadamkan potensi emas anak-anak istimewa di Lewoleba, ataukah kita akan menjadi bagian dari solusi yang memampukan mereka tegak berdiri di atas kaki sendiri.***




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *