Bolehkah Warga Desa Menggunakan Bahasa Gaul? Kenali Istilah yang Lagi Trend!

KABAR-DESAKU.COM – Bahasa gaul bukan hanya milik anak kota! Di era digital ini, bahasa terus berkembang dan merambah ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk di desa.

Warga desa, terutama generasi muda, semakin sering menggunakan bahasa gaul dalam percakapan sehari-hari, baik di sekolah, pasar, maupun saat nongkrong di warung kopi.

Tapi, apa saja istilah yang lagi trend dan bagaimana pengaruhnya terhadap komunikasi di desa? Yuk, kita bahas!

Baca Juga: Keren! Hijaukan Lereng Gunung Slamet, Pegiat Lebah dan Warga Tanam 2300 Pohon

Istilah Bahasa Gaul yang Lagi Ngetren

1. Manifesting

Dulu, orang desa biasa menyebutnya “berharap” atau “berdoa”, tapi sekarang banyak anak muda yang memakai istilah manifesting.

Artinya adalah proses mewujudkan sesuatu yang diinginkan.

Contoh: “Aku lagi manifesting biar panen tahun ini sukses!”

2. FOMO (Fear of Missing Out)

Warga desa juga bisa kena FOMO, lho! Istilah ini menggambarkan perasaan takut ketinggalan sesuatu yang sedang tren.

Contoh: “Aku FOMO banget karena nggak ikut arisan ibu-ibu di balai desa!”

3. Salty

Biasanya orang desa menyebutnya “bete” atau “kesel”, tapi sekarang banyak yang bilang salty saat merasa kesal atau kecewa.

Contoh: “Aku salty banget karena kalah lomba panjat pinang di 17-an!”

4. YOLO (You Only Live Once)

Ini cocok buat warga desa yang suka tantangan! YOLO adalah prinsip hidup yang mendorong untuk menikmati hidup dan tidak menunda kesempatan.

Contoh: “Ayo kita jalan-jalan ke kota! YOLO!”

5. Lit

Kalau acara di desa sangat meriah dan seru, bisa dibilang lit!

Contoh: “Pentas dangdut di alun-alun desa tadi malam benar-benar lit!”

Baca Juga: Serunya Permainan Kelapa Pusing! Anak Desa Adipasir Tinggalkan Gadget demi Mainan Lawas

6. Ghost

Istilah ini sering dipakai ketika seseorang tiba-tiba menghilang tanpa kabar, mirip dengan istilah “ngilang kayak ditelan bumi”.

Contoh: “Dia ghost aku setelah aku ngajak kerja bakti!”

7. Savage

Digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berbicara blak-blakan, bahkan terkadang sarkas.

Contoh: “Mbah Yanto savage banget kalau kasih wejangan di pos ronda!”

8. Lowkey/Highkey

Dipakai untuk menyatakan perasaan yang tidak terlalu ingin diumbar (lowkey) atau yang sangat ingin diungkapkan (highkey).

Contoh: “Aku lowkey suka sama anak Pak RT!”

9. Tea

Kalau ada gosip terbaru di desa, bisa disebut sebagai tea!

Contoh: “Aduh, aku punya tea baru tentang Pak Kades nih!”

10. Shook

Kata ini menggambarkan perasaan yang sangat terkejut atau tidak percaya.

Contoh: “Aku shook banget lihat harga cabai naik drastis di pasar desa!”

11. Stan

Istilah ini digunakan untuk menunjukkan seseorang yang sangat mengidolakan sesuatu atau seseorang.

Contoh: “Aku stan banget sama grup hadroh di desa sebelah!”

Bahasa Gaul di Desa: Perlukah?

Penggunaan bahasa gaul di desa sebenarnya sah-sah saja, selama tidak menghilangkan nilai kesopanan dan tetap memahami siapa lawan bicaranya.

Misalnya, berbicara dengan sesama anak muda sah-sah saja menggunakan bahasa gaul, tapi kalau dengan orang tua atau perangkat desa, lebih baik tetap memakai bahasa yang sopan.

Sebagai warga desa yang melek zaman, tidak ada salahnya memahami bahasa gaul agar tetap nyambung saat ngobrol dengan anak muda.

Tapi, tetap jaga adat dan budaya agar bahasa asli desa tidak hilang, ya!***




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *