BANDUNG, KABAR-DESAKU.COM – Penanganan sampah di Bandung mendapat perhatian serius dari artis sekaligus pegiat lingkungan Irfan Hakim. Bersama Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, ia meninjau langsung kegiatan pengolahan sampah dan program Buruan Sae di Jasmine Integrated Farming yang dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) RW 19 Antapani Tengah, Minggu, 22 Februari 2026.
Dilansir dari laman resmi Pemkot Bandung, kunjungan tersebut berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Ketua KSM Jasmine Integrated Farming, Dodi, mengungkapkan rasa syukur atas perhatian Pemerintah Kota Bandung terhadap inisiatif warga yang telah berjalan sejak 2019.
“Alhamdulillah, luar biasa. Pengurus, emak-emak, dan warga menyambut dengan senang hati. Apalagi ini bulan puasa, jadi berkah,” ujarnya.
Perjalanan Panjang Kelola Sampah Berbasis Warga
Dodi menjelaskan, membangun sistem pengelolaan sampah terpadu bukanlah proses yang instan. Sejak dirintis tujuh tahun lalu, berbagai tantangan dihadapi, mulai dari mengubah pola pikir warga hingga memperkuat manajemen operasional.
Namun konsistensi dan komitmen warga membuahkan hasil nyata. Sampah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan kini bertransformasi menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus penopang ketahanan pangan masyarakat.
Pengelolaan dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik, proses pengolahan, hingga pemanfaatannya untuk mendukung program Buruan Sae serta pertanian skala lingkungan.
“Dari awal memang rumit. Sekarang jadi ‘rujit jadi duit’. Sampah jadi berkah itu benar, karena dikelola dengan manajemen yang baik,” kata Dodi.
Jadi Rujukan Hingga Mancanegara
Menariknya, Jasmine Integrated Farming lebih dulu dikenal luas oleh berbagai komunitas dan lembaga dari luar daerah, bahkan luar negeri, yang datang untuk mempelajari model pengelolaan sampah berbasis masyarakat tersebut.
Dalam kunjungan itu, Muhammad Farhan dan Irfan Hakim melihat langsung proses pengolahan sampah harian yang mampu mencapai 130 kilogram.

Jasmine Integrated Farming, Pengelolaan Sampah di Bandung
Sampah organik diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan untuk pertanian terpadu, sementara sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang.
Menurut Dodi, salah satu pesan penting dari kunjungan tersebut adalah mendorong penyelesaian persoalan sampah di tingkat RW atau komunitas.
“Kalau di kami, sampah tidak jadi masalah karena sudah selesai di tempat. Setiap harinya bisa mengolah 130 kg. Harapannya, RW lain bisa melakukan hal yang sama,” ungkapnya.
Solusi Nyata untuk Tantangan Sampah Kota Bandung
Model pengelolaan ini dinilai relevan dengan kondisi Kota Bandung yang tengah menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah.
Dengan pendekatan berbasis komunitas, volume sampah yang harus diangkut ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara signifikan.
Baca juga: Perkuat Ekosistem Kreatif, Pemkot Bandung Fokus Akses Modal dan Regulasi Sehat
Selain mengurangi beban lingkungan, sistem ini juga memberdayakan warga secara ekonomi dan sosial. Kesadaran kolektif menjadi kunci keberhasilan, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya.
Dodi pun berharap gerakan pengelolaan sampah mandiri seperti yang dijalankan Jasmine Integrated Farming dapat direplikasi di seluruh wilayah Kota Bandung.
“Namanya sampah, kenapa harus dibuang ke tempat lain kalau bisa selesai di lingkungan sendiri? Mudah-mudahan langkah Pak Wali ini didukung seluruh warga,” tutupnya.***




























