KOTA PEKALONGAN, KABAR-DESAKU.COM – Sejarah keberadaan etnis keturunan Arab di Sugihwaras Kota Pekalongan tidak bisa dilepaskan dari komunitas Arab yang lebih besar di Pekalongan.
Sejak abad ke-18, kedatangan imigran Arab dari Hadhramaut ke wilayah ini membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk perdagangan, sosial, dan keagamaan.
Berdasarkan catatan Van den Berg (1989) dan Steenbrink (1984), mayoritas komunitas Arab yang datang ke Pekalongan berasal dari golongan Sayyid.
Mereka menikah dengan perempuan pribumi, terutama dari kalangan pemimpin setempat, dan menjadi bagian dari inti koloni besar yang kini berakar kuat di Sugihwaras.
Kehadiran mereka di Pekalongan kala itu membawa dampak ekonomi yang luar biasa, karena sebagian besar dari mereka menjalankan usaha dagang yang sukses.
Baca juga: Masih Kesulitan Daftar NPWP Online, Begini Cara Daftar Melalui Coretax
Keberhasilan ekonomi komunitas Arab di Pekalongan menarik minat saudara-saudara mereka di Hadhramaut untuk ikut merantau ke Indonesia.
Hal ini mempercepat pertumbuhan populasi Arab di wilayah tersebut. Salah satu tokoh penting yang pertama kali datang dan menetap di Sugihwaras adalah Habib Hussein Al-Attas pada sekitar tahun 1800.
Saat itu, Sugihwaras masih berupa hutan belantara yang belum banyak dihuni.
Sebagai seorang Muslim yang taat, Habib Hussein Al-Attas mengikuti jejak Rasulullah dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah baru.
Langkah pertama yang ia lakukan adalah mendirikan sebuah masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah.
Masjid ini kemudian menjadi titik awal interaksi sosial masyarakat Sugihwaras, yang secara bertahap berkembang menjadi komunitas Muslim yang solid.
Masjid yang beliau bangun kini dikenal sebagai Masjid Wakaf yang terletak di Jalan Surabaya.
Baca juga: Mengintip Keunikan 5 Kampung Arab di Indonesia: Destinasi Wisata Religi yang Wajib Dikunjungi
Tak hanya membangun masjid, komunitas Arab di Sugihwaras juga mendirikan madrasah sebagai pusat pendidikan Islam.
Madrasah ini menjadi cikal bakal sistem pendidikan Islam di Pekalongan dan saat ini berfungsi sebagai pondok asrama bagi para santri.
Dengan adanya madrasah ini, pendidikan Islam semakin berkembang dan memperkuat identitas keagamaan masyarakat setempat.
Jejak yang ditinggalkan oleh para pendatang Arab di Sugihwaras masih dapat dirasakan hingga kini.
Tradisi, budaya, dan sistem sosial yang mereka bangun terus berkembang, menjadikan Sugihwaras sebagai salah satu pusat peradaban Islam di Pekalongan.
Kisah perjuangan mereka adalah bukti nyata bagaimana perpaduan antara agama, budaya, dan semangat dagang dapat menciptakan komunitas yang maju dan harmonis.***




























