KABAR-DESAKU.COM – Puisi “Rintik yang Mengerti” karya Dewi Ratih menghadirkan suasana malam yang hening, ditemani rintik hujan yang seolah menjadi sahabat paling setia bagi hati yang letih.
Melalui diksi yang lembut dan penuh perasaan, penyair mengajak pembaca menyelami ruang sunyi seorang perempuan yang memendam rindu, menahan doa, dan berdamai dengan kehilangan.
Hujan dalam puisi ini bukan sekadar latar suasana, melainkan simbol dari perasaan yang tak terucap—tentang kerinduan yang menggantung, tentang bayangan yang datang dan pergi, serta tentang tanya yang tak sempat menemukan jawaban.
Setiap larik mengalir pelan, seperti rintik yang mengetuk kaca, membawa nuansa melankolis namun tetap menyimpan harapan.
Baca juga: Menelisik Makna di Balik “Tak Menentu”: Puisi Dewi Ratih tentang Perjalanan Mencari Ketenangan
Di balik kesedihan yang tersirat, puisi ini juga memancarkan kekuatan. Ada keteguhan dalam sosok perempuan yang memilih menjahit sabar di sela kerinduan, menitipkan perih pada hujan, lalu bangkit menyambut fajar dengan keberanian baru.
“Rintik yang Mengerti” bukan hanya tentang luka, tetapi juga tentang proses menerima dan belajar kuat kembali.
Puisi ini cocok bagi pembaca yang pernah merasakan sepi, kehilangan, atau rindu yang tak sampai—sekaligus bagi mereka yang sedang belajar memeluk diri sendiri dengan lebih utuh.
Baca juga: Doa di Balik Langit Kelabu Puisi Karya Dewi Ratih
Berikut bait-bait puisi karya Dewi Ratih
Rintik yang Mengerti
Malam jatuh pelan di bahuku yang letih,
Rintik hujan mengetuk kaca, lirih.
Lampu kota redup, seperti hatiku sendiri,
Sepi memeluk erat tanpa janji kembali.
Aku perempuan dengan doa yang tertahan,
Menjahit sabar di sela-sela kerinduan.
Bayangmu datang lalu hilang di genang jalan,
Tinggalkan tanya yang tak sempat terjawabkan.
Namun pada hujan kutitipkan perih ini,
Biar larut bersama dingin yang menyusuri.
Esok bila fajar menyapa tanpa ilusi,
Kan kupeluk diri sendiri, belajar kuat lagi.
Karya-karya Dewi Ratih ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk berani berekspresi dan berkarya.***



























