BANJARNEGARA, KABAR-DESAKU.COM – Keterbatasan fasilitas bukan menjadi penghalang bagi keluarga besar SMP Negeri 4 Satap Pagentan, Kabupaten Banjarnegara untuk memupuk nilai spiritualitas. Pada Selasa (27/1/2026), ruang perpustakaan sekolah yang biasanya tenang dengan jajaran buku, berubah menjadi episentrum religiusitas.
Ruangan tersebut dialihfungsikan menjadi musala sementara demi menyelenggarakan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H.
Mengusung tema besar “Cahaya Isra’ Mi’raj: Menuntun Jiwa Menuju Takwa”, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 132 peserta.
Kehangatan ukhuwah sangat terasa dengan hadirnya jajaran dewan guru serta seluruh siswa. Menariknya, acara ini juga melibatkan siswa dari SD Negeri 1 Babadan sebagai bentuk kolaborasi dan upaya mempererat silaturahmi antarlembaga pendidikan di lingkungan Pagentan.
Baca juga: KUA Pagentan Raih Penghargaan Teraktif Ke-2, Kemenag Banjarnegara Dorong Digitalisasi Informasi
Penyuluh Agama Islam dari KUA Pagentan, M. Syaiful Abidin, hadir sebagai narasumber utama. Dalam uraiannya, Syaiful membedah makna Isra’ Mi’raj melampaui dimensi ruang dan waktu.
Ia menekankan bahwa inti dari perjalanan agung Rasulullah adalah menjemput perintah salat, yang di era sekarang harus menjadi benteng bagi generasi muda.
“Di era digital yang penuh disrupsi, siswa butuh jangkar moral yang kuat. Perjalanan menuju Sidratul Muntaha adalah simbol pencapaian level ketakwaan tertinggi. Disiplin dalam salat adalah kunci agar jiwa tidak terombang-ambing oleh pengaruh negatif lingkungan,” urai Syaiful dengan lugas.
Kepala SMP Negeri 4 Satap Pagentan, Saekudin, dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan karakter melalui pendekatan agama adalah prioritas sekolah. Ia tidak ingin kegiatan ini terjebak dalam rutinitas tahunan tanpa dampak nyata.
“Sekolah punya tanggung jawab moral untuk menjaga spiritualitas siswa. Nilai akademik memang penting, namun ketakwaan adalah fondasi karakter. Saya berharap ada perubahan perilaku yang nyata dari para siswa setelah mendalami makna Isra’ Mi’raj hari ini,” ungkap Saekudin penuh harap.
Meskipun acara berlangsung di dalam ruang perpustakaan dengan sarana yang sederhana, antusiasme para siswa tetap tinggi.
Hal ini membuktikan bahwa semangat untuk menimba ilmu agama tidak surut hanya karena keterbatasan tempat.
Acara kemudian dipungkasi dengan doa bersama yang dipimpin oleh M. Syaiful Abidin, memohon keberkahan bagi kemajuan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat Pagentan secara luas.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa cahaya iman bisa bersinar di mana saja, bahkan dari balik rak-rak buku perpustakaan sekolah di pelosok Banjarnegara.*** (msa)




























