BANJARNEGARA, KABAR-DESAKU.COM – Kajian Sabtu Sore Masjid Roudlotul Huda Dusun Cikura Desa Luwung Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara kali ini, Sabtu (14/12/2024).
Menghadirkan Ustadz Anwar Subekti dari Teras Hijrah Banjarnegara.
Pada kesempatan tersebut, Ustadz Anwar panggilan akrabnya menyampaikan materi tentang pentingnya adab.
Adab dan ilmu adalah dua hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Keduanya memiliki peran signifikan dalam membentuk kepribadian dan karakter seseorang.
Namun, dalam banyak kajian Islam maupun filsafat moral, sering ditekankan bahwa adab (kesopanan, etika, dan moral) memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan.
Hal ini bukan berarti ilmu tidak penting, melainkan bahwa ilmu tanpa adab dapat membawa kepada kehancuran, sementara adab tanpa ilmu tetap dapat memberikan manfaat yang besar bagi diri sendiri dan masyarakat.
Baca juga: Cara Daftar NPWP Online Cukup dari Rumah Tanpa Ribet dan Mudah
Makna Adab dan Ilmu
Adab berasal dari bahasa Arab yang berarti tata krama, kesopanan, atau akhlak mulia.
Dalam Islam, adab mencakup segala aspek moralitas dan etika yang harus dimiliki oleh seorang Muslim dalam berinteraksi dengan Allah, manusia, dan lingkungan sekitarnya.
Adab mencerminkan kualitas diri seseorang yang tertanam dalam hati dan tampak dalam perilaku sehari-hari.
Sementara itu, ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh melalui belajar, mengamati, dan berpikir.
Ilmu memberikan manusia kemampuan untuk memahami dunia, menciptakan teknologi, serta menyelesaikan masalah-masalah kehidupan.
Baca juga: Kajian Rutin Masjid Roudlotul Huda Desa Luwung Banjarnegara: Rugi Beribadah Tanpa Ilmu
Mengapa Adab Lebih Tinggi daripada Ilmu?
1. Ilmu Tanpa Adab Bisa Berbahaya
Ilmu yang dimiliki seseorang tanpa dilandasi adab dan akhlak dapat membawa dampak negatif.
Misalnya, seorang ilmuwan yang memiliki pengetahuan canggih tentang teknologi bisa saja menyalahgunakannya untuk tujuan yang merugikan banyak orang, seperti membuat senjata pemusnah massal atau memanipulasi informasi demi keuntungan pribadi.
Dalam sejarah, banyak contoh yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tanpa adab telah menyebabkan kerusakan besar.
Oleh karena itu, adab menjadi penyeimbang yang memastikan bahwa ilmu digunakan untuk kebaikan, bukan untuk kehancuran.
2. Adab Membentuk Kepribadian yang Mulia
Adab tidak hanya mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, tetapi juga membentuk kepribadiannya sendiri.
Dalam Islam, Rasulullah SAW adalah contoh teladan yang menunjukkan betapa adab menjadi pondasi dalam hidup.
Beliau dikenal sebagai pribadi yang santun, sabar, dan penuh kasih sayang meskipun beliau adalah manusia dengan ilmu yang sangat tinggi.
Adab membuat seseorang dihormati dan disegani, meskipun ia tidak memiliki ilmu yang mendalam.
Sebaliknya, orang yang berilmu tetapi tidak memiliki adab cenderung dijauhi karena sifat sombong atau kasar yang mungkin dimilikinya.
3. Adab adalah Wujud Keimanan
Dalam Islam, adab dianggap sebagai bagian dari keimanan. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Dengan kata lain, adab adalah inti dari ajaran Islam itu sendiri.
Ilmu tanpa iman dan akhlak yang baik menjadi sia-sia di hadapan Allah.
Dalam Al-Qur’an, Allah juga mengingatkan bahwa kedudukan seseorang tidak hanya ditentukan oleh ilmunya, tetapi juga oleh ketakwaan dan amal perbuatannya.
4. Adab Menuntun Cara Mendapatkan Ilmu yang Benar
Adab menjadi kunci dalam proses mencari ilmu.
Seorang penuntut ilmu yang memiliki adab akan menghormati gurunya, bersikap rendah hati, dan tidak sombong dengan pengetahuannya.
Sikap seperti ini membuat ilmunya lebih bermanfaat dan mendatangkan berkah.
Sebaliknya, ilmu yang didapatkan dengan cara yang salah atau tanpa menghormati sumbernya sering kali tidak membawa manfaat bagi pemiliknya.
Baca juga: Meriah! Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Desa Adipasir, Ustadz Naseh Sampaikan Ini
Pentingnya Adab dalam Kehidupan Modern
Di era modern ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat.
Sayangnya, tidak semua kemajuan tersebut diiringi dengan nilai-nilai moral dan etika yang baik.
Masalah seperti korupsi, eksploitasi sumber daya alam, dan ketimpangan sosial sering kali muncul karena ilmu digunakan tanpa mempertimbangkan nilai-nilai adab.
Adab menjadi solusi untuk menghadapi tantangan ini.
Dalam dunia pendidikan, misalnya, para pendidik tidak hanya bertugas mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai adab kepada peserta didik.
Begitu pula dalam dunia kerja, adab dalam berinteraksi, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati, sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan produktif.
Jadi dapat disimpulkan bahwa adab dan ilmu adalah dua hal yang saling melengkapi, tetapi adab memiliki posisi yang lebih tinggi karena menjadi dasar bagi penggunaan ilmu yang benar.
Ilmu tanpa adab ibarat pedang tanpa sarung—berbahaya dan berpotensi melukai.
Oleh karena itu, menanamkan adab dalam diri kita dan generasi mendatang adalah investasi yang sangat penting.
Seperti yang diungkapkan oleh Imam Malik, “Belajarlah adab sebelum belajar ilmu.”
Pesan ini mengingatkan kita bahwa karakter dan moral yang baik adalah pondasi utama sebelum kita membangun pengetahuan.
Dengan adab yang kuat, ilmu yang kita miliki akan menjadi berkah, tidak hanya bagi diri kita sendiri, tetapi juga bagi dunia di sekitar kita.***




























