LEMBATA, KABAR-DESAKU.COM – Isu disabilitas di tingkat desa selama ini kerap hanya menjadi catatan administratif tanpa tindak lanjut nyata. Namun terobosan berbeda ditunjukkan oleh Pemerintah Desa Nuba Boli, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.
Kepala Desa Nuba Boli, Florianus Pito, secara resmi meluncurkan Tim Pendamping Disabilitas Desa (TPDD), sebuah langkah progresif yang disebut sebagai yang pertama di wilayah tersebut.
Peluncuran TPDD menandai perubahan pendekatan dalam penanganan penyandang disabilitas di tingkat desa.
Tidak lagi sebatas bantuan sembako atau santunan tunai yang bersifat sementara, program ini menitikberatkan pada pendampingan dan pembinaan berkelanjutan, khususnya bagi anak-anak penyandang disabilitas, baik dari aspek fisik maupun psikologis.
Kegiatan pendampingan ini diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Nuba Boli dan dilaksanakan pada Kamis, 29 Januari 2026, mulai pukul 10.00 WITA hingga selesai, bertempat di Desa Nuba Boli.
Hadir dalam kegiatan tersebut unsur BPD Desa Nuba Boli, perangkat desa, orang tua anak disabilitas, serta anak-anak penyandang disabilitas warga setempat.
Acara diawali dengan sambutan dari Paulus Geradus Hurint, selaku Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Sekolah SLB Negeri Lewoleba, kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan resmi oleh Kepala Desa Nuba Boli, Florianus Pito.
Pendampingan dilakukan langsung oleh Tim dari SLB Negeri Lewoleba yang dipimpin oleh Plt. Kepala Sekolah SLB Negeri Lewoleba bersama seorang Guru Pendidikan Luar Biasa (PLB), atas undangan resmi Pemerintah Desa Nuba Boli.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Florianus Pito menegaskan bahwa kepedulian terhadap warga disabilitas tidak boleh berhenti pada penyaluran bantuan sosial semata.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi anak-anak penyandang disabilitas jauh lebih kompleks dan membutuhkan pendampingan jangka panjang serta kolaborasi lintas pihak.
“Seorang pemimpin sejati bukan hanya membangun benda mati, tetapi juga memuliakan jiwa manusia,” ungkapnya.
Baca juga: 3 Desa Eksotis Di Ile Ape Lembata, Kaya Budaya dan Sumber Daya
Ia menambahkan bahwa keterbatasan anggaran desa bukanlah penghalang untuk berinovasi selama pengelolaan dana desa dilakukan secara tepat sasaran dan dilandasi empati.
Sementara itu, Plt. Kepala SLB Negeri Lewoleba, Paulus Geradus Hurint, dalam sambutannya mengajak seluruh peserta untuk mengubah cara pandang terhadap disabilitas.

Paulus Geradus Hurint, S.T.Gr selaku Plt. Kepala Sekolah SLB Negeri Lewoleba Kegiatan Pendampingan ini dilakukan pada Kamis, 29 Januari 2026.
Menurutnya, selama ini fokus sering tertuju pada apa yang “tidak bisa” dilakukan anak disabilitas.
“Kehadiran kami bukan untuk memperbaiki anak, tetapi untuk memperbaiki lingkungan dan sistem pendampingan, agar anak-anak disabilitas bisa bersinar di masa depan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya membuka “gerbang inklusi” yang selama ini masih tertutup bagi banyak anak disabilitas, mulai dari gerbang pendidikan, pertemanan, hingga kemandirian.
Kunci pembuka gerbang tersebut, kata dia, adalah pendampingan terpadu yang melibatkan semua pihak: orang tua, guru, tenaga medis, psikolog, pemerintah, dan masyarakat.
Mengakhiri sambutannya, Paulus mengingatkan bahwa mendidik anak disabilitas bukanlah perlombaan lari cepat, melainkan sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kerja sama yang solid.
“Kita tidak sedang menyiapkan anak yang duduk manis hari ini, tetapi orang dewasa yang tangguh di masa depan. Mari kita berkomitmen, tidak ada satu pun anak disabilitas yang tertinggal. Jangan berjuang sendirian, karena kita ada untuk saling menguatkan,” tegasnya.
Dengan peluncuran Tim Pendamping Disabilitas Desa ini, Desa Nuba Boli kini mulai menjadi sorotan dan diharapkan dapat menjadi pilot project desa inklusif bagi desa-desa lain di Kabupaten Lembata, bahkan di wilayah yang lebih luas.***


























