Oleh : Paulus Geradus Hurint, S.T.,Gr (Plt. Kepala SLB Negeri Lewoleba)
KABAR-DESAKU.COM – Tepat 365 hari yang lalu, saya melangkah masuk ke gerbang Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Lewoleba dengan sebuah Surat Tugas di tangan dan segudang tanda tanya di Kepala saya.
Menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah di lingkungan Pendidikan Luar Biasa bukanlah sekedar perpindahan meja kerja, melainkan sebuah perjalanan menembus batas-batas kesabaran dan kemanusiaan yang selama ini mungkin hanya saya pahami di permukaan.
Menoleh ke belakang, perjalanan satu tahun ini adalah masa transisi yang penuh tantangan, namun sekaligus menjadi periode pertumbuhan yang luar biasa bagi diri saya secara professional maupun personal.
Dunia pendidikan khusus menuntut lebih dari sekadar manajemen administratif dan empati yang mendalam serta kesabaran tanpa batas.
Selama satu tahun ini saya telah menyaksikan dedikasi yang luar biasa dari para Guru dan Pegawai di sekolah serta semangat juang dari para siswa ditengah segala keterbatasan mereka.
Baca juga: Perayaan Natal dan Tahun Baru SLB Negeri Lewoleba di Pantai Harnus, Penuh Makna dan Kebersamaan
Hal inilah yang menyadarkan saya bahwa peran pemimpin di Sekolah Luar Biasa adalah memastikan setiap anak yang unik ini merasa berharga dan setiap Guru dan Pegawai merasa didukung.
Oleh karena itu, jika saya ditanya bagaimana rasanya sebagai pemimpin di Sekolah Luar Biasa, maka jawabannya bukan tentang angka atau jabatan, melainkan tentang perjalanan hati.
Memimpin dengan “Rasa”
Di Sekolah Luar Biasa (SLB), struktur kepemimpinan tidak bisa hanya ditegakkan dengan aturan kaku atau angka-angka pencapaian akademis.
Satu tahun pemimpin lembaga pendidikan yang Luar Biasa ini, telah mengajarkan saya bahwa sebagai pemimpin harus menjadi seorang “pendengar”.
Saya belajar mendengarkan suara dari keheningan anak-anak tunarungu, membaca semangat dari tatapan kosong anak-anak tunanetra, dan memahami bahasa cinta dari anak-anak dengan spektrum autisme.
Kepemimpinan di sekolah ini adalah tentang bagaimana kita menciptakan ekosistem yang ramah bagi keunikan setiap anak.
Baca juga: Haru dan Bangga! 17 Siswa SLB Negeri Lewoleba Resmi Lulus Tahun Ini
Jika di sekolah reguler kita mengejar standar, maka di Sekolah Luar Biasa ini kita merayakan kemajuan sekecil apapun itu.
Ketika seorang anak disabilitas akhirnya bisa memegang sendok sendiri atau mengucapkan satu kata sapaan, maka itulah “akreditasi” sesungguhnya yang melampau lembar penilaian mana pun.

Ketangguhan di Balik Keterbatasan
Satu tahun ini telah menjadi cermin bagi ketangguhan diri saya. Dinamika menjadi Plt. Kepala Sekolah di SLB Negeri Lewoleba menuntut adaptasi yang cepat.
Saya melihat dan merasakan bahwa betapa luar biasa dan mulianya pengabdian para Guru dan Pegawai yang bukan hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga perawat, pelindung dan orang tua kedua.
Tantangan administratif dan manajerial pun tentu ada, namun setiap kali saya merasa lelah, lorong-lorong sekolah yang penuh dengan anak-anak istimewa ini selalu punya cara untuk memulihkan energi saya.
Mereka mengajarkan saya satu hal penting bahwa: “keterbatasan fisik dan mental tidak pernah bisa membatasi martabat seseorang”.
Menata Masa Depan
Genap satu tahun masa baktiku ini bukanlah garis finish, melainkan sebuah titik singgah bagi saya, untuk mengambil napas dan memperkuat komitmen.
Tugas saya ke depan masih panjang, sehingga saya harus memastikan aksesibilitas yang lebih baik, memperjuangkan kesetaraan di masyarakat bagi lulusan Sekolah Luar Biasa, dan terus menerus menghapus stigma tentang anak-anak disabilitas.
Saya menyadari bahwa kepemimpinan adalah sebuah titipan, namun jejak kebaikan adalah warisan. Terima kasih buat Bapak Ibu Guru dan staf Tata Usaha, orang tua dan khususnya anak-anak didikku yang luar biasa.
Kalian adalah Guru sesungguhnya, yang telah mendidik saya untuk menjadi seorang pemimpin yang lebih manusiawi selama setahun ini.
Baca juga: Desa Nuba Boli Luncurkan Tim Pendamping Disabilitas, Jadi Pelopor Desa Inklusif di Lembata
Masih banyak hal yang perlu saya perbaiki dan kembangkan. Oleh karena itu momentum perjalanan kepemimpinan saya selama satu tahun ini, saya jadikan sebagai titik pijak untuk terus menerus berinovasi demi kemajuan sekolah dan anak didikku yang unik.
Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya, dan mari kita terus menerus bersinergi, demi masa depan anak-anak kita yang istimewa ini, sehingga mereka dapat menemukan “cahaya” dalam diri mereka sendiri.
Terima Kasih – Tuhan dan Leluhur Lewotana selalu menyertai kita semua.***




























