TEMANGGUNG, KABAR-DESAKU.COM – Di balik keheningan malam Ramadan di Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra Penganthi Temanggung, tersimpan semangat spiritual yang luar biasa.
Di dalam masjid panti yang tenang, jemari para penyandang disabilitas netra bergerak lincah namun penuh perasaan, menyusuri setiap titik timbul pada lembaran mushaf Al-Qur’an Braille.
Keterbatasan penglihatan terbukti bukan menjadi penghalang bagi para penerima manfaat di panti ini untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Ramadan 1447 Hijriah ini menjadi momentum bagi mereka untuk memperdalam kemampuan membaca kitab suci melalui sentuhan ujung jari.
Baca juga: Berkah Ramadhan! Teh Kulit Nanas Asal Kudus Tembus Mancanegara
Perjuangan di Balik Titik Timbul
Dilansir dari laman resmi Pemkab Temanggung, salah satu peserta tadarus, Nur Wahyu Setyanto, mengisahkan bahwa perjalanan belajarnya tidaklah instan. Membaca Al-Qur’an dengan indra peraba membutuhkan konsentrasi tinggi dan kesabaran yang berlapis.
“Awalnya terasa sangat sulit. Huruf-huruf timbul itu harus dikenali satu per satu dengan ujung jari. Namun, berkat ketekunan, akhirnya saya berhasil menguasainya,” kenang Nur Wahyu, Senin (9/3/2026).
Proses belajar setiap individu memang berbeda. Ada yang mampu fasih dalam waktu enam bulan, namun ada pula yang membutuhkan waktu hingga tiga tahun.
Semua bergantung pada konsistensi dan semangat pantang menyerah dari masing-masing peserta.
Baca juga: Dinkominfo Temanggung Bekali Guru MI Manbaul Huda Pelatihan Digital dan Branding Madrasah
Program Pembinaan yang Terstruktur
Kepala Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra Penganthi, Teguh Widianto, menjelaskan bahwa tadarus menggunakan Al-Qur’an Braille adalah agenda utama selama bulan suci.
Program ini dirancang agar para penyandang disabilitas tetap memiliki akses penuh terhadap ibadah meski dalam keterbatasan.
“Kami memulai bimbingan dari tahap paling dasar, yakni menggunakan buku Iqra Braille. Setelah mereka mengenal huruf dan bacaan dasar, barulah meningkat ke pembacaan Al-Qur’an penuh serta program hafalan ayat secara bertahap,” jelas Teguh.
Memperkuat Spiritual di Bulan Suci
Selain tadarus rutin, kegiatan di panti selama Ramadan berlangsung sangat padat dan religius. Para penerima manfaat juga mengikuti:
- Salat berjamaah lima waktu dan Tarawih.
- Kajian keagamaan intensif.
- Pembelajaran hafalan (tahfidz) ayat-ayat pendek.
Melalui rangkaian kegiatan ini, pihak panti berharap para penyandang disabilitas netra tidak hanya mendapatkan pahala ibadah, tetapi juga memiliki kepercayaan diri dan kemampuan literasi religi yang mumpuni saat kembali ke masyarakat nanti.***




























