Dandangan 2025: Tradisi Warisan Sunan Kudus yang Kian Meriah dan Gerakkan Ekonomi

KUDUS, KABAR-DESAKU.COM – Tradisi Dandangan kembali digelar di Kabupaten Kudus sebagai warisan budaya yang harus terus dirawat dan dikembangkan.

Acara tahunan ini, yang merupakan peninggalan Kanjeng Sunan Kudus Syekh Ja’far Shodiq, menjadi momen istimewa bagi masyarakat Kudus dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Kudus yang diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Kudus, Revlisianto Subekti, saat Apel Tradisi Dandangan di Halaman Pendapa Kabupaten Kudus pada Jumat (28/2/2025).

“Dandangan adalah tradisi menyambut Ramadan yang telah dilakukan sejak zaman Sunan Kudus Syekh Ja’far Shodiq. Tugas kita saat ini adalah menjaga dan mengembangkan tradisi ini agar tetap lestari,” ungkap Revlisianto.

Baca juga: Dugderan 2025: Tradisi Sambut Ramadan 144 Tahun Lalu yang Tak Lekang Zaman!

Seiring perkembangan zaman, Dandangan kini tidak hanya menjadi ajang syiar Islam tetapi juga memiliki peran strategis dalam menggerakkan perekonomian daerah.

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Kudus, ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) turut serta dalam perayaan ini, menjadikan Dandangan sebagai event budaya yang juga memiliki dampak ekonomi besar bagi masyarakat Kudus. Bahkan, tradisi ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kabupaten Kudus.

“Saat ini, ratusan UMKM ikut meramaikan Dandangan, yang tidak hanya memperkaya budaya lokal tetapi juga membantu meningkatkan pendapatan masyarakat,” lanjutnya.

Dandangan 2025 telah berlangsung sejak 19 Februari dan resmi ditutup pada 28 Februari, sehari sebelum perkiraan 1 Ramadan yang jatuh pada 1 Maret 2025.

Penutupan Dandangan tahun ini dimeriahkan dengan kirab budaya yang melibatkan perwakilan dari berbagai kecamatan dan anggota Pramuka.

Para peserta kirab mengenakan pakaian adat Kudusan sambil diiringi lantunan rebana, berjalan dari Pendapa Kabupaten Kudus hingga Menara Kudus, menciptakan suasana penuh khidmat dan meriah.

Baca juga: Temukan Kampung Moderasi Beragama di Jawa Tengah di Desa Tanjungkarang Kudus

Meskipun cuaca kurang bersahabat dengan hujan yang turun di beberapa hari perayaan, hal itu tidak menyurutkan antusiasme masyarakat.

Ribuan pengunjung, baik dari dalam maupun luar Kudus, tetap memadati area acara.

Revlisianto memperkirakan jumlah pengunjung Dandangan 2025 mencapai 50 ribu orang, menunjukkan bahwa tradisi ini masih menjadi magnet bagi warga.

“Meskipun hujan mengguyur, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Keramaian tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu,” tambahnya.

Dandangan tidak sekadar menjadi ajang budaya dan religi, tetapi juga simbol kebersamaan masyarakat Kudus dalam menjaga warisan leluhur.

Dengan semangat yang terus menyala, tradisi ini diharapkan semakin berkembang dan memberikan manfaat lebih luas di tahun-tahun mendatang.***




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *