SEMARANG, KABAR-DESAKU.COM – Di tengah pesatnya era ekonomi digital, pasar rakyat terbukti masih memegang peran krusial. Bukan hanya sebagai tempat transaksi jual beli, pasar rakyat kini didorong untuk menjadi ruang publik yang adaptif dan menjadi episentrum pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Semangat inilah yang melatari Program Iptek Bagi Desa Binaan Universitas Diponegoro (IDBU) melalui KKN Tematik (KKN-T). Mereka mengusung misi besar memajukan Pasar Rakyat Gedawang Oke Oye (SARANGEOO) di Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.
Program yang dimulai pada awal Juli 2026 ini berada di bawah pendampingan dua dosen pembimbing dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNDIP, Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum dan Herpin Nopiandi Khurosan, S.S., M.S. Sinergi ini dirancang untuk mempertemukan ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi lokal.
Kelurahan Gedawang dikenal memiliki modal sosial yang kuat. Selain pertumbuhan permukiman yang pesat, wilayah ini diramaikan oleh berbagai kelompok aktif mulai dari PKK, karang taruna, pelaku UMKM, hingga komunitas olahraga.
Potensi inilah yang ditangkap oleh tim KKN Tematik Undip. Salah satu strategi unik yang diterapkan adalah mengawinkan kegiatan senam bersama ibu-ibu PKK dengan bazar UMKM SARANGEOO.
Ratusan warga yang berkumpul setiap pekan untuk berolahraga kini disulap menjadi pasar potensial bagi produk-produk lokal.
Tak berhenti di situ, untuk terus memicu keramaian dan mengoptimalkan ruang publik di sekitar Kantor Kelurahan Gedawang, rangkaian acara dilanjutkan dengan berbagai turnamen olahraga antar-RW, seperti lomba badminton dan bola voli.
Melalui konsep SARANGEOO, pasar rakyat tidak lagi dipandang konvensional. Tempat ini bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup; tempat masyarakat berinteraksi, menjaga kesehatan, menikmati hiburan, sekaligus menggerakkan roda ekonomi kreatif.

Senam Bersama Ibu-ibu di Kelurahan Gedawang (Dokumen KKN-T IDBU-08 UNDIP)
Namun, menciptakan keramaian yang produktif membutuhkan sentuhan profesional. Oleh karena itu, program ini menerapkan konsep crowd design (desain keramaian) yang matang. Penataan jalur pengunjung, penempatan stan UMKM, area pertunjukan, lahan parkir, hingga fasilitas umum dirancang sedemikian rupa agar aman, nyaman, dan memberikan pengalaman berbelanja yang menyenangkan.
Dosen pendamping sekaligus warga Kelurahan Gedawang, Dr. Sukarjo Waluyo, menjelaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Kehadiran dosen dan mahasiswa di tengah masyarakat menjadi bentuk nyata pengabdian yang berorientasi pada penyelesaian persoalan di tingkat lokal. Ke depan, SARANGEOO berpotensi menjadi model pengembangan pasar rakyat modern berbasis komunitas di Kota Semarang,” ujar Sukarjo.

Dukungan Progam Mahasiswa KKN UNDIP oleh para Ketua RW di Kelurahan Gedawang (Dokumen KKN-T IDBU-08 UNDIP)
Ia menambahkan, ketika aspek kesehatan, pemberdayaan perempuan, kreativitas anak muda, dan pelayanan masyarakat diintegrasikan, pasar rakyat akan memiliki daya pikat yang jauh lebih besar dibanding aktivitas perdagangan biasa.
Langkah strategis ini mendapat apresiasi penuh dari pemerintah setempat. Lurah Gedawang, Sri Suwanti, S.STP., menekankan bahwa kebangkitan ekonomi lokal tidak selalu bergantung pada kucuran modal yang masif.
“Pembangunan ekonomi masyarakat tidak selalu membutuhkan investasi besar. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca potensi lokal, mengelola keramaian secara profesional, serta membangun kolaborasi antar-pemangku kepentingan. Melalui SARANGEOO, Gedawang menunjukkan bahwa ruang publik dapat menjadi laboratorium pemberdayaan masyarakat sekaligus penggerak ekonomi berbasis gotong royong,” tegas Sri Suwanti.
Melalui pengelolaan yang konsisten dan kolaboratif, Pasar Rakyat Gedawang (SARANGEOO) diproyeksikan tumbuh menjadi ikon ekonomi kerakyatan baru di Kota Semarang—sebuah ekosistem berkelanjutan di mana kesehatan, kebersamaan, dan kesejahteraan masyarakat saling bertaut.*** (Sumber: Sukarjo)


























