Memiliki Daya Saing dan Bermanfaat untuk Sesama, Ahmad Ali Dorong Ponpes Menjadi Pusat Pendidikan yang Adaptif (Jilid 21)

Tolitoli, KABAR-DESAKU.COM – Silaturahmi Ahmad Ali di Ponpes Putra Ad Da’watun Nubuwwah Tolitoli pada Selasa, (06-08-2024), memantik semangat kita semua.

Dengan dorongan semangat dari Ahmad Ali agar pondok pesantren bisa menjadi pusat pendidikan yang mampu berdaya saing.

Harapan Ahmad Ali melalui pesantren harus bisa melahirkan santri yang terampil, bukan hanya saleh secara spiritual, tapi juga saleh sosial yang adaptif dan bermanfaat untuk sesama.

Keinginan besar dari Bakal Calon Gubernur Sulteng ini bahwa pesantren harus dikembangkan adalah keniscayaan yang tak terbantahkan.

Selain meningkatkan kemampuan dan pengetahuan agama, santri juga perlu dilatih untuk menjadi generasi yang bisa ikut terlibat dalam meningkatkan kemakmuran ekonomi dan sosial masyarakat.

Baca juga: Inspiratif!, Kepala Desa Ini Selain Pandai Memimpin Juga Ahli Melukis

Maka peran serta pemerintah perlu memberikan perhatian lebih untuk pengembangan pondok pesantren sebagai pusat pendidikan keagamaan.

Strategi Adaptif yang ditekankan oleh Ahmad Ali adalah agar Pondok Pesantren menjadi Learning Organization.

Pergeseran dan perubahan sosial membuat lembaga pendidikan tradisional melakukan perubahan dengan cermat.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang khas produk budaya Indonesia adalah lembaga pendidikan tradisional yang dituntut melakukan hal serupa.

Kelihaian pesantren menjaga eksistensinya didapat karena kemampuannya melakukan adaptasi terhadap perubahan lingkungannya.

Baca juga: Cegah Kenakalan Remaja dan Nikah Anak, KUA Pagentan Banjarnegara Bersama KKN Unsoed Gelar BRUS di SMP Negeri 1 Pagentan

Komponen rasional adaptasi, proses learning organization dan adaptive learning organization di seluruh pesantren yang ada di Sulawesi Tengah.

Memperkenalkan pola dan strategi adaptasi yang baru di pondok pesantren terutama saat digunakan untuk melihat model learning organization yang dijalankan oleh pesantren.

Secara kualitatif multisitus dengan pendekatan fenomenologi harus lebih terpadu dilakukan pengelola pondok pesantren.

Menggunakan analisis data multisitus, sedangkan penggalian data menggunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi.

Maka akan didapatkan perpaduan antara konsep adaptive strategy dan learning organization di di pesantren.

Baca juga: Ahmad Ali Tekankan Pentingnya Toleransi Antar Umat Beragama, Agama Jangan Dijadikan Topeng (Jilid 20) 

Adaptive strategy berasal dari warisan (legacy) luhur pendiri, falsafah al-Muhafadhatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah dan tafaqquh fi al-din yang terus dipegang sebagai dasar perubahan.

Pembentukan milieu baru di pesantren dapat dilakukan dengan penyelenggaraan konsolidasi rutin dan forum eksternal dan internal.

Sehingga terdapat ruang “kebebasan” berinovasi dan prinsip kesalingan antar pengasuh, pengurus dan santri dan stakeholders untuk meningkatkan SDM.

Sementara learning organization di dua situs ditandai dengan terjadinya proses pembelajaran berkelanjutan, penguatan komitmen, nilai-nilai kebersamaan, keikhlasan, kemandirian, distribusi tugas, pengembangan kapabilitas serta pemantapan jaringan strategis.

Proses dan alur pembelajaran dilakukan dengan sangat khas dengan tetap mengedepankan nilai-nilai pesantren.

Adapun Adaptive Learning Organization dilakukan dengan upaya partnership dan kolaborasi dengan berbagai stakeholder, termasuk di dalamnya peningkatan kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia.

Baca juga: Apresiasi untuk Perangkat Desa, Pemerintah Berikan NIPD Berikut ini Manfaatnya

Pesantren Sebagai Pilar Utama Melestarikan Ajaran Agama

Harapan besar yang terpatri pada diri Ahmad Ali untuk menguatkan pesantren yang sejatinya adalah sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia.

Dan tak bisa dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi pilar utama dalam melestarikan dan menyebarkan nilai-nilai ajaran agama. Serta menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan.

Namun, dalam perkembangannya, pesantren dihadapkan pada tantangan untuk tetap mempertahankan tradisi dan identitas khasnya sambil beradaptasi dengan tuntutan zaman modern.

Pada masa kontemporer ini, dunia mengalami perubahan yang sangat cepat dan dinamis.

Globalisasi, perkembangan teknologi, dan transformasi sosial budaya telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan.

Pesantren, sebagai lembaga pendidikan tradisional, tidak dapat mengelak dari pengaruh perubahan tersebut.

Baca juga: Tanamkan Nasionalisme Sejak Dini, Rumah Baca Purnama Gelar Lomba Menyanyi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana pesantren dapat menjaga relevansinya di tengah arus perubahan ini tanpa mengorbankan akar budaya dan tradisi yang telah menjadi identitas utamanya.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi pesantren adalah perlunya mengintegrasikan kurikulum yang seimbang antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.

Meskipun pesantren dikenal sebagai pusat studi agama Islam, namun untuk menjawab kebutuhan zaman, pesantren juga harus memberikan bekal pengetahuan umum yang memadai kepada para santrinya.

Pendekatan holistik dalam pendidikan sangat penting untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki penguasaan ilmu agama yang mendalam, tetapi juga memiliki keterampilan dan pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Salah satu langkah penting yang telah dilakukan oleh banyak pesantren adalah dengan mengadopsi sistem pendidikan modern, seperti menerapkan kurikulum pendidikan nasional dan mengintegrasikan mata pelajaran umum ke dalam kurikulum pesantren.

Beberapa pesantren bahkan telah mendirikan sekolah-sekolah formal, seperti madrasah atau sekolah umum, di dalam lingkungan pesantren.

Dengan demikian, para santri tidak hanya mendapatkan pengetahuan agama yang mendalam, tetapi juga memperoleh bekal pengetahuan umum yang memadai untuk menghadapi tantangan dunia modern.

Baca juga: Bawa Beras Seceting, Founder Rumah Baca Purnama Banjarnegara Indra Hari Purnama Siap Brantas Stunting

Selain itu, pesantren juga harus memanfaatkan perkembangan teknologi dalam proses pembelajaran dan pengembangan sumber daya manusia.

Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pendidikan dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran.

Selain itu juga memfasilitasi akses terhadap sumber informasi yang lebih luas, dan mempersiapkan para santri untuk menghadapi tantangan di era digital.

Pesantren dapat mengadopsi metode pembelajaran modern, untuk memperkaya pengalaman belajar para santri dan memastikan bahwa mereka memiliki keterampilan yang relevan dengan tuntutan zaman.

Namun, di tengah upaya adaptasi terhadap perubahan zaman, pesantren juga harus mempertahankan warisan budaya dan tradisi yang telah menjadi identitas utamanya.

Nilai-nilai seperti kesederhanaan, kemandirian, kebersamaan, dan ketaatan kepada kyai atau guru spiritual harus tetap dijaga dan dilestarikan.

Pesantren harus mampu menyeimbangkan antara modernisasi dan pelestarian tradisi, sehingga para santri tidak kehilangan akar budaya dan identitas mereka sebagai bagian dari komunitas pesantren yang khas.

Baca juga: 5 Tips Ini Diberikan Founder Rumah Baca Purnama Pada Workshop Kepenulisan di Disarpus Banjarnegara

Selain itu, peran pesantren dalam mendidik dan membentuk karakter generasi muda juga harus terus dipertahankan.

Pesantren harus menekankan pentingnya nilai-nilai moral, etika, dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, para santri tidak hanya dididik untuk menjadi individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berintegritas.

Pesantren telah membuktikan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang tangguh dan adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan sepanjang sejarahnya.

Pada zaman sekarang, pesantren dihadapkan pada tantangan baru untuk tetap relevan dan menjawab kebutuhan zaman modern tanpa mengorbankan identitas dan tradisi yang telah menjadi ciri khasnya.

Dengan menyeimbangkan antara modernisasi dan pelestarian tradisi, serta membuka diri terhadap kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Tidak ada sekedar menjadi harapan Ahmad Ali saja, namun buat kita semua agar terwujudnya pesantren dapat terus berperan penting dalam mendidik generasi muda Indonesia menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, berintegritas, dan tetap memegang teguh nilai-nilai budaya dan spiritual. ***

BERSAMBUNG

Ditulis oleh : Maulana Maududi ( Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Central Analisa Strategis – DPP CAS)




One thought on “Memiliki Daya Saing dan Bermanfaat untuk Sesama, Ahmad Ali Dorong Ponpes Menjadi Pusat Pendidikan yang Adaptif (Jilid 21)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *