ISI Surakarta Teliti Kertas Tradisional Gendhong di Desa Ploso Ngawi, Dorong Pelestarian Warisan Budaya dan Ekonomi Kreatif

NGAWI, KABAR-DESAKU.COM – Kertas tradisional Gendhong kembali menjadi perhatian dunia akademik. Tim dosen peneliti Program Studi Kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melakukan penelitian lanjutan mengenai konservasi dan revitalisasi kertas tradisional Gendhong di Desa Ploso, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, pada 27–28 Juni 2026.

Penelitian ini bertujuan menggali potensi material tradisional sebagai inovasi seni, pelestarian warisan budaya, sekaligus pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Tim peneliti yang terdiri dari Gayuh Styono, S.Sn. bersama Ageng Satria Pamungkas, M.Pd. dengan fokus mengkaji pemanfaatan pohon glugu (Broussonetia papyrifera Vent.), bahan baku utama pembuatan kertas tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Ploso.

Baca juga: Lewat Konsep SARANGEOO, KKN Tematik UNDIP Hidupkan Ruang Publik di Gedawang

Kertas Tradisional Gendhong Berpotensi Dikembangkan Menjadi Produk Kreatif

Dalam penelitian ini, tim ISI Surakarta berupaya mengungkap potensi serat glugu yang selama ini dikenal memiliki karakter kuat dan tekstur khas. Selain memiliki nilai historis, material tersebut dinilai berpeluang besar dikembangkan menjadi berbagai produk seni, desain, hingga industri kreatif berbasis budaya.

Ageng Satria Pamungkas, mengatakan penelitian ini tidak hanya berorientasi pada pelestarian tradisi, tetapi juga berupaya menghadirkan inovasi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami ingin melihat kertas tradisional Gendhong tidak hanya sebagai warisan budaya yang perlu dijaga, tetapi juga sebagai material yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk seni dan ekonomi kreatif. Dengan memadukan pengetahuan lokal dan pendekatan desain kontemporer, kami berharap lahir inovasi yang tetap menghormati nilai tradisi sekaligus relevan dengan kebutuhan masa kini,” ujar Ageng, Selasa (21/7/2026).

kertas tradisional Gendhong

Tim Penelitian Konservasi dan Revitalisasi Kertas Tradisional Gendhong Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, di Desa Ploso, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi

Menurutnya, pengembangan material lokal menjadi produk kreatif merupakan salah satu strategi agar warisan budaya tetap hidup dan memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Penelitian dilaksanakan menggunakan metode Practice Based Research (PBR), yakni pendekatan penelitian yang menempatkan praktik, eksperimen, eksplorasi material, dan pengalaman langsung sebagai bagian utama dalam proses menghasilkan pengetahuan.

Baca juga: Prof. Irina dari St. Petersburg University Bagikan Pengalaman Penelitiannya terkait Sastra Sufi Nusantara

Melalui pendekatan tersebut, tim peneliti tidak hanya melakukan kajian akademik, tetapi juga terlibat langsung bersama masyarakat dalam proses observasi, eksplorasi material, hingga refleksi bersama.

“Melalui pendekatan Practice Based Research, kami dapat memahami material tidak hanya dari sisi ilmiah, tetapi juga dari pengalaman para perajin, seniman, dan masyarakat yang selama ini menjaga tradisi pembuatan kertas Gendhong,” ujar Gayuh Styono.

Libatkan Komunitas Seni dan Pesantren

Penelitian ini menggandeng ASKYA (Asosiasi Seni Kaligrafi Yukminuuna) dan Pesantren Yukminuuna Bil Ghoibi sebagai mitra penelitian. Kedua komunitas tersebut selama ini aktif memanfaatkan kertas tradisional Gendhong sebagai media berkarya, khususnya dalam seni kaligrafi.

Kolaborasi tersebut memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan antara akademisi, komunitas seni, pesantren, serta masyarakat sehingga proses penelitian berlangsung secara partisipatif.

Baca juga: Sinergi PLN Peduli dan Rumah Baca Purnama, Nyalakan Lentera Literasi dan Ekonomi Kreatif di Banjarnegara

Dalam perspektif penelitian ini, warisan budaya dipandang sebagai living heritage, yaitu budaya yang terus hidup, diwariskan, dikembangkan, dan dimaknai oleh masyarakat sesuai perkembangan zaman.

Selain mendukung upaya konservasi, penelitian ini juga membuka peluang pengembangan produk berbasis kertas tradisional Gendhong yang memiliki nilai ekonomi tanpa meninggalkan karakter material maupun identitas budaya lokal.

Tim peneliti berharap hasil penelitian ini dapat memperkuat ekosistem pelestarian kertas tradisional Gendhong melalui sinergi antara ISI Surakarta, komunitas seni, pesantren, pemerintah, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menjaga keberlanjutan warisan budaya, sekaligus membuka peluang baru bagi tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis potensi lokal di Desa Ploso, Ngawi.*** (ASP)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *